Presenteeism, Apakah anda pernah mengalaminya?

Mendengar kata presenteeism sepertinya asing bagi kita di Indonesia. Mungkin yang banyak kita tahu adalah absnteeism atau absen alias tidak masuk kerja. Namun tahukah anda bahwa keduanya memiliki muara akhir yang sama, yaitu penurunan produktivitas kerja. Oleh sebab itu melalui artikel ini saya akan membahas lebih detail mengenai presenteeism.

 

Produktivitas tenaga kerja telah menjadi faktor yang penting dalam kekuatan dan kelangsungan kinerja bisnis suatu perusahaan. Produktivitas ini sangat erat hubungannya dengan ketidakhadiran karyawan. Ketidakhadiran karyawan mengacu pada hilangnya jam kerja karena suatu alasan, terutama karena alasan kesehatan, disabilitas atau hal yang lain. Namun, ada suatu keadaan dimana ketika karyawan hadir secara fisik di tempat kerja mereka, tetapi mereka mungkin berada di bawah kualitas kerja yang normal. Hal inilah yang dikenal sebagai sebuah konsep yang bernama presenteeism.Jadi, inti dari presenteeism adalah kehadiran karyawan di tempat kerja namun dengan kualitas dan kapasitas kerja dibawah normal oleh karena banyak faktor yang mempengaruhinya.

 

Berdasarkan literatur dan berbagai jurnal penelitian, penyebab presenteeism adalah karena faktor gangguan kesehatan dan faktor lain diluar gangguan kesehatan.Faktor gangguan kesehatan yang terbukti berhubungan dengan keadaan prsenteeism ini contohnya pada beberapa penyakit kronik seperti rheumatoid atritis, osteoatritis, dan inflamatory bowel syndrome (IBD).Selain itu pada gangguan kesehatan lainnya seperti pada gangguan psikis, misalnya pada keadaan stress, gangguan kecemasan, depresi, dan gangguan mood juga terbukti berperan dalam terjadinya presenteeism.Sedangkan penyebab dari faktor lain diluar gangguan kesehatan yang telah terbukti berpengaruh terhadap terjadinya presenteeism diantaranya adalah karena faktor sosial dan budaya, faktor kebiasaan dan perilaku, ataupun faktor kepemimpinan, peraturan dan kebijakan dalam perusahaan.

 

Penelitian oleh Edington dan Burton mendapatkan fakta bahwa presenteeism ini telah terbukti bertanggung jawab atas lebih dari 60% penyebab kerugian ekonomi karena kesehatan karyawan yang buruk, yang akhirnya berpengaruh pada biaya medis, obat-obatan, ketidakhadiran dan kecacatan. Penelitian oleh Xiaoqian dan Jiansi di China, telah melaporkan bahwa produktivitas yang hilang akibat presenteeism mencapai hampir 50% lebih besar dibandingkan dengan akibat absenteeism.Menurut Despiegel, pada beberapa penyakit, presenteeism bahkan lebih banyak menyebabkan kerugian produktivitas dibandingkan absenteeism.

 

Di Indonesia sendiri belum ada data dan penelitian yang mendalam mengenai tingkat produktivitas pekerja akibat presenteeism. Namun, menurut laporan Menteri Tenaga Kerja tahun 2017, Hanif Dhakiri, tingkat produktivitas tenaga kerja Indonesia masih berada di bawah Singapura, Malaysia, dan Thailand.Bahkan bila dibandingkan dengan Jepang, pekerja di Jepang mampu menciptakan output hampir empat kali lipat dari nominal uang yang dihasilkan di Indonesia dengan durasi yang sama.Berkaca dari data-data tersebut maka patut diduga bahwa kejadian presenteeism ini juga merupakan salah satu faktor yang turut andil dalam kurangnya tingkat produktivitas yang di Indonesia, disamping faktor-faktor lainnya yang juga berpengaruh.

 

Berdasarkan pembahasan singkat tersebut maka kita sebagai pelaku dalam dunia usaha, baik sebagai pemilik perusahaan maupun karyawan, perlu sekali menyadari akan hal ini. Bahwa kehadiran yang baik tidak serta merta ukuran bagi tingkat produktivitas yang baik pula.

 

Perlu sekali perusahaan menyikapi hal ini, terutama jika memang karyawan yang sedang sakit dapat diberikan ijin agar dapat beristirahat dengan optimal di rumah, sehingga nantinya ketika karyawan kita pulih, mereka kan kembali ke produktivitas yang optimal.

 

Sebaliknya kita sebagai karyawan perlu menyadari kapasitas kita. Jika memang tubuh kita tidak memungkinkan untuk bekerja, ada baiknya beristirahat dengan baik demi pemulihan diri. Sehingga nantinya progresifitas penyakit tidak berlanjut dan pada akhirnya setelah masuk kerja akan kembali ke tingkat produktivitas yang optimal.

 

Penulis :

dr. Ferry A. Tanama

Resident of Occupational Medicine

Faculty of Medicine, University of Indonesia